Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Cerita Fiksi : Percakapan 2 Orang Teman Terkait KP2B, LP2B dan LCP2B

Gambar
Rina: Eh, tadi aku baca artikel tentang KP2B, LP2B, sama LCP2B. Kamu pernah denger istilah-istilah itu? Dani: Hmm… kayaknya pernah lewat di berita, tapi aku nggak terlalu ngerti. Itu soal lahan pertanian ya? Rina: Iya, betul. Jadi gini, KP2B itu Kawasan Perlindungan Pertanian Berkelanjutan. Anggap aja kayak wilayah besar yang pemerintah tandai sebagai area yang harus dipertahankan untuk pertanian. Dani: Ooh jadi kayak zona khusus pertanian gitu? Rina: Nah, tepat! Terus di dalam KP2B itu ada yang lebih spesifik namanya LP2B—Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Ini biasanya sawah-sawah yang udah ditetapkan resmi dan nggak boleh dialihfungsikan sama sekali. Dani: Jadi kalau LP2B itu udah pasti nggak boleh jadi perumahan atau pabrik? Rina: Iya, karena itu inti perlindungan lahannya. Lalu ada juga LCP2B, atau Cadangan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Ini semacam lahan cadangan kalau misalnya ada LP2B yang terpaksa hilang karena pembangunan penting. Dani: Waaah jadi kay...

Kota yang Bangkit dari Banjir

Gambar
Di sebuah kota bernama Sentosa Raya, banjir sudah menjadi pemandangan yang biasa setiap musim hujan tiba. Setiap kali awan gelap menutup langit, warga langsung bersiap-siap memindahkan barang-barang ke tempat tinggi. Air yang datang dari hujan deras tak butuh waktu lama untuk meluap ke jalan dan masuk ke rumah-rumah. Di beberapa kawasan, air bahkan bisa setinggi lutut orang dewasa. Warga sudah terbiasa, tapi di hati kecil mereka, semua berharap keadaan itu bisa berubah. Awalnya, banyak yang menyalahkan cuaca. Mereka berpikir hujan yang terlalu deras menjadi penyebab utama. Namun suatu hari, seorang mahasiswa lingkungan bernama Rafi yang tinggal di daerah itu mencoba mencari tahu lebih dalam. Ia melakukan penelitian kecil bersama teman-temannya dan menemukan fakta bahwa penyebab sebenarnya bukan hanya hujan, melainkan drainase kota yang tersumbat dan kawasan resapan air yang hilang akibat pembangunan. Banyak saluran air dipenuhi sampah, lumpur, dan bahkan ada yang sudah berubah menjadi...

Langkah di Kota yang Terencana

Gambar
Pagi itu, Arga melangkah keluar dari pintu apartemennya yang terletak di lantai tiga sebuah bangunan berkonsep mixed-use , tempat hunian, toko, dan kafe berdiri berdampingan dalam harmoni. Udara segar menyambutnya — bukan udara yang pekat oleh asap kendaraan, melainkan udara yang bersih berkat jalur hijau yang membentang di sepanjang jalan utama. Ia menapaki trotoar lebar yang teduh oleh pepohonan flamboyan. Di sebelahnya, jalur sepeda terbentang rapi, dipisahkan dari lajur kendaraan oleh taman kecil penuh bunga kuning dan ungu. Tak jauh dari situ, sebuah trem listrik melintas perlahan, nyaris tanpa suara, membawa penumpang ke arah pusat kota. Arga tersenyum. Setiap langkahnya terasa ringan. Di sudut jalan, ia berhenti sejenak untuk membeli kopi dari kios kecil yang menempel pada bangunan perpustakaan umum. Barista mengenalinya — “Seperti biasa, Pak Arga? Flat white tanpa gula?” Ia mengangguk. “Iya, terima kasih.” Sambil menunggu, ia memandang sekeliling. Anak-anak sekolah menyeber...