Cerita Fiksi: Diskusi 2 Sahabat tentang RTH
Di sebuah kafe kecil yang tersembunyi di antara gedung-gedung tinggi, dua orang sahabat lama, Dimas dan Arif, duduk berhadapan. Mereka bukan hanya sekadar teman biasa, keduanya adalah ahli perencanaan wilayah dan kota. Dimas bekerja di pemerintah daerah Yogyakarta, sedangkan Arif berkarier di Jakarta sebagai konsultan perencanaan kota. Meskipun pekerjaan mereka berbeda, diskusi tentang kota selalu menjadi topik favorit.
Hari itu, mereka memutuskan bertemu setelah sekian lama tak bersua. Usai menghadiri sebuah seminar tata ruang kota, mereka sepakat untuk duduk santai dan menikmati kopi sambil membahas isu yang sering membuat mereka berpikir: pentingnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam pembangunan kota modern.
![]() |
| Ilustrasi Arif dan Dimas |
"Jadi, menurutmu, seberapa penting RTH di kota-kota besar sekarang?" tanya Dimas, sambil menyeruput kopinya. Ia memulai pembicaraan dengan nada ringan, meskipun topik tentang kota sering memicu diskusi serius di antara mereka.
Arif menghela napas dan tersenyum tipis. "Penting, tapi tidak bisa kita paksakan secara kaku. Setiap kota punya tantangan dan kebutuhan yang berbeda. Menurutku, pendekatan yang fleksibel lebih masuk akal daripada sekadar mengejar target 30 persen RTH yang tertulis di undang-undang."
Dimas terkejut, meskipun ia tahu Arif selalu punya pandangan yang sedikit berbeda darinya. "Tapi itu kan sudah jadi standar, Rif. 30 persen itu angka yang disepakati untuk memastikan kota-kota kita tetap punya ruang hijau yang memadai. Tanpa itu, kita bisa kehilangan keseimbangan ekologis."
Arif mengaduk kopinya perlahan sebelum menjawab. "Aku tidak menolak pentingnya RTH, tapi kondisi di lapangan jauh lebih rumit, Dim. Kota seperti Jakarta misalnya, dengan lahan yang semakin terbatas dan harga tanah yang melonjak, bagaimana kita bisa mencapai target itu tanpa mengorbankan ruang untuk perumahan, infrastruktur, dan fasilitas umum lainnya?"
Dimas menggelengkan kepala, berusaha keras untuk memahami sudut pandang sahabatnya. "Tapi jika kita terlalu pragmatis, apa yang tersisa untuk generasi mendatang? Udara bersih, ruang publik, dan lingkungan yang sehat itu hak semua orang. Kalau kita tidak disiplin soal RTH, kota akan jadi lautan beton."
Arif tersenyum, melihat antusiasme Dimas yang selalu mengedepankan idealisme. "Aku setuju, Dim. Udara bersih dan ruang publik memang penting. Tapi kita juga harus realistis. Di kota besar, kita harus lebih kreatif dalam memanfaatkan lahan yang ada. Mengintegrasikan ruang hijau dalam gedung-gedung vertikal, taman atap, atau bahkan hutan kota mini bisa jadi solusi. Itu juga RTH, meski tidak terlihat tradisional."
"Jadi kamu berpikir kota bisa berfungsi tanpa RTH yang luas di permukaan?" tanya Dimas, masih belum sepenuhnya yakin.
"Betul. Bukan berarti kita menurunkan standar, tapi lebih pada bagaimana kita beradaptasi. Kota modern harus punya solusi modern juga. Kalau kita kaku, pertumbuhan kota bisa terhambat, terutama di daerah-daerah yang sudah sangat padat. Selain itu, kita juga bisa menciptakan ruang hijau yang lebih inklusif, yang mudah diakses oleh masyarakat, meskipun skalanya kecil."
Dimas termenung, merenungkan ucapan Arif. Selama bertahun-tahun bekerja di pemerintah daerah, ia selalu mendorong pentingnya RTH yang luas sebagai penopang ekologi kota. Namun, ia tidak bisa menampik kenyataan bahwa kondisi setiap kota berbeda, dan lahan semakin terbatas.
"Kalau begitu, menurutmu berapa presentase RTH yang ideal untuk kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya?" tanya Dimas, kini lebih tertarik untuk mendengar gagasan Arif lebih jauh.
Arif tersenyum tipis, seolah sudah menduga pertanyaan itu akan muncul. "Idealnya tetap 30 persen, tapi bukan berarti harus semuanya di atas permukaan tanah. Kita bisa memanfaatkan konsep RTH vertikal, ruang hijau buatan di gedung-gedung tinggi, atau lahan kosong di pinggiran kota. Intinya, kita tetap butuh inovasi untuk menyeimbangkan kebutuhan ruang dan ekologi."
Dimas mengangguk perlahan. "Aku mengerti, tapi aku tetap berpikir bahwa RTH yang luas di permukaan tetap penting. Kota yang hanya memiliki ruang hijau kecil di sudut-sudut gedung akan terasa sumpek dan kurang natural."
Arif menatap sahabatnya dengan penuh penghargaan. "Itulah indahnya perencanaan kota, Dim. Kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Yang penting, kita tetap mencari solusi yang seimbang antara idealisme dan realitas di lapangan."
Mereka berdua tertawa kecil, merasakan kehangatan perbincangan lama yang selalu membawa mereka ke dalam diskusi mendalam. Perbedaan pendapat tak pernah mengurangi rasa hormat dan persahabatan di antara mereka. Malah, perdebatan seperti inilah yang membuat mereka saling menghargai sudut pandang masing-masing.
Ketika sore mulai menjelang, dan kopi di cangkir mereka hampir habis, Dimas menatap jalanan kota yang ramai di luar jendela kafe.
"Pada akhirnya, kita tetap ingin kota ini dan kota-kota lainnya menjadi tempat yang layak untuk hidup, kan?" ujar Dimas dengan senyum.
Arif mengangguk, ikut memandang ke luar. "Iya, itulah tujuan kita. Dan itulah yang membuat kita terus berjuang, meskipun dengan cara yang mungkin berbeda."
Mereka pun bangkit dari kursi, berjalan keluar dengan perasaan puas setelah berdiskusi panjang. Meskipun berbeda pandangan soal RTH, mereka tetap bersatu dalam tujuan yang sama: menciptakan kota yang lebih baik untuk semua. Sebuah kota yang seimbang antara kebutuhan pembangunan dan kelestarian alam.

Komentar
Posting Komentar