Cerita Fiksi: Perdebatan Multitafsir Peraturan RTRW

Di suatu siang yang lembap dan agak mendung di awal bulan September, ruang rapat lantai dua Dinas Penataan Ruang dan Pertanahan Kabupaten Santikarta terasa lebih panas dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan rusak, melainkan karena suasana yang menghangat. Dua orang rekan sejawat, Ardi dan Dimas, tengah terlibat dalam perdebatan yang tidak biasa. Keduanya adalah perencana ruang senior yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di bidang yang sama. Namun siang itu, mereka seperti berdiri di sisi yang berseberangan dari satu teks yang sama: Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Santikarta Tahun 2035.

"Kalau kita bicara soal pasal itu, yang menyatakan kegiatan permukiman yang tidak mengubah fungsi utama kawasan perkebunan serta intensitas pemanfaatan ruang maksimal enam puluh persen, kita harus pahami bahwa pemukiman tetap dimungkinkan selama tidak menghilangkan fungsi perkebunannya. Jadi, menurutku, pemukiman bisa dibangun di situ selama tidak menutup seluruh area dengan bangunan. Selama ruang terbukanya masih mendukung fungsi perkebunan, maka tidak masalah," ujar Ardi dengan suara tegas namun tenang.

Dimas menghela napas panjang, menggeser tumpukan dokumen di depannya. "Itu justru masalahnya, Di. Bahasa di pasal itu terlalu kabur. Apa yang dimaksud dengan 'tidak mengubah fungsi utama'? Bagaimana kita memastikan bahwa kegiatan permukiman tidak akan pelan-pelan menggeser dominasi fungsi perkebunan di kawasan itu? Kita lihat saja contoh di Desa Sukaraya Barat. Awalnya cuma dibangun rumah-rumah pekarangan oleh para petani setempat. Lama-lama, muncul toko-toko kelontong, kios, bahkan warung makan. Sekarang fungsi perkebunannya tinggal nama. Semuanya tertutup bangunan non-pertanian."

"Tapi kamu juga harus lihat niat dan semangat dari peraturan ini. Justru kita diberi ruang untuk fleksibel. Tidak semua wilayah bisa disekat tegas secara fungsional. Kawasan transisi antara perkebunan dan permukiman harus bisa beradaptasi, dan ketentuan enam puluh persen itu memberikan batasan yang logis. Selama Koefisien Dasar Bangunan-nya tidak melampaui batas, dan masih ada aktivitas budidaya, menurutku itu sah," Ardi menimpali, mulai terdengar emosional.

Dimas menggeleng pelan, lalu berdiri dan menunjuk layar proyektor yang menampilkan peta rencana pola ruang. "Lihat kawasan ini. Zona warna hijau tua yang artinya kawasan perkebunan. Sekarang sudah ada lima permohonan izin perumahan berskala kecil di dalamnya. Masing-masing mengklaim bahwa mereka tetap mempertahankan fungsi kebun karena di belakang rumah masih ada pohon pisang. Apa itu yang dimaksud tidak mengubah fungsi utama? Apakah kita akan menganggap semua itu sebagai kepatuhan hanya karena ada sedikit vegetasi tersisa?"




Ardi mengangkat tangan, mencoba menenangkan situasi, meskipun wajahnya sudah mulai memerah. "Kita tidak bisa memakai kasus anekdotal sebagai patokan untuk semua permohonan. Kita butuh alat ukur yang lebih teknis. Makanya, kita punya instrumen Kajian Teknis Rencana Tapak. Di situlah fungsi utama bisa dikaji secara kuantitatif. Tidak bisa hanya berdasarkan visual peta atau asumsi bahwa semua pemukiman akan menggeser fungsi kebun."

Dimas bersandar di kursinya, melipat tangan. "Aku tahu kamu berpegang pada aspek teknis, tapi kita juga tidak boleh melupakan semangat pengendalian ruang. Ini bukan hanya soal angka dan proporsi, tapi juga arah kebijakan wilayah. RTRW kita sudah menetapkan kawasan ini sebagai bagian dari sistem pertanian berkelanjutan. Kalau kita longgarkan tafsirnya hanya karena kalimat di pasal itu terbuka, kita sedang membuka celah pembenaran legal untuk perubahan fungsi secara de facto."

Suasana menjadi hening sesaat. Di luar ruangan, suara motor lewat samar terdengar dari jalanan depan kantor. Di dalam, detik-detik jam dinding seperti berdetak lebih keras dari biasanya. Ardi akhirnya memecah keheningan.

"Justru karena kalimat itu multitafsir, tugas kita sebagai perencana ruang adalah menyeimbangkan antara kebutuhan aktual masyarakat dan arahan kebijakan jangka panjang. Kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa penduduk di kawasan perkebunan itu butuh tempat tinggal yang layak. Kalau semua permukiman dilarang total, mereka akan membangun tanpa izin dan kita kehilangan kendali sepenuhnya."

Dimas memutar kursi ke arah jendela, menatap pepohonan karet yang berjajar di kejauhan. "Aku setuju bahwa kita tidak bisa menutup mata. Tapi kita juga tidak bisa membiarkan multitafsir ini menjadi alasan untuk memudarkan komitmen ruang. Bukankah seharusnya kita mendorong revisi atas bahasa peraturan yang terlalu lentur seperti ini? Atau paling tidak, menyusun petunjuk teknis yang bisa menutup ruang abu-abu itu?"

"Setuju," jawab Ardi pelan. "Justru ini kesempatan kita untuk membawa diskusi ini ke ranah forum koordinasi penataan ruang. Forum itu kan memang dibentuk untuk menjawab persoalan-persoalan interpretasi teknis seperti ini. Kita bisa usulkan agar ketentuan semacam itu diterjemahkan dalam panduan yang lebih operasional, bukan hanya normatif. Mungkin kita bisa inisiasi kajian tipologi ruang transisi agar ke depan tidak semua keputusan berdasarkan tafsir personal."

Dimas akhirnya tersenyum tipis. "Akhirnya kita sepakat juga. Kadang aku lupa bahwa kita sama-sama ingin ruang ini tetap lestari, meskipun cara pandang kita berbeda."

"Ya, kita berbeda dalam pendekatan, tapi sepakat dalam arah," jawab Ardi sambil menutup berkas di mejanya. "Multitafsir itu kadang menakutkan, tapi kalau dikelola dengan tepat, justru bisa jadi ruang dialog. Daripada semua harus hitam putih."

Dimas mengangguk. "Tapi jangan terlalu abu-abu juga. Nanti malah semua orang bisa ngaku-ngaku bahwa mereka tidak mengubah fungsi, padahal sudah bangun ruko di tengah kebun."

Tawa kecil terdengar dari keduanya. Ketegangan siang itu mencair, digantikan oleh rasa saling mengerti bahwa dalam dunia perencanaan ruang, seringkali yang paling sulit bukanlah menghitung luas lahan, tapi menyamakan cara membaca satu kalimat yang terbuka pada banyak penafsiran. Dan pada akhirnya, bukan hanya peraturan yang dibutuhkan, tapi juga kesadaran dan keberanian untuk merumuskan arah dengan jernih—di tengah realitas yang selalu berubah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Fiksi: Transportasi Berkelanjutan Kota Virella

Cerita Fiksi: Transformasi Kota dengan TOD

Cerita Fiksi: Kota yang Berubah Demi Masa Depan