Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Cerita Fiksi: Perdebatan Multitafsir Peraturan RTRW

Gambar
Di suatu siang yang lembap dan agak mendung di awal bulan September, ruang rapat lantai dua Dinas Penataan Ruang dan Pertanahan Kabupaten Santikarta terasa lebih panas dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan rusak, melainkan karena suasana yang menghangat. Dua orang rekan sejawat, Ardi dan Dimas, tengah terlibat dalam perdebatan yang tidak biasa. Keduanya adalah perencana ruang senior yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di bidang yang sama. Namun siang itu, mereka seperti berdiri di sisi yang berseberangan dari satu teks yang sama: Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Santikarta Tahun 2035. "Kalau kita bicara soal pasal itu, yang menyatakan kegiatan permukiman yang tidak mengubah fungsi utama kawasan perkebunan serta intensitas pemanfaatan ruang maksimal enam puluh persen , kita harus pahami bahwa pemukiman tetap dimungkinkan selama tidak menghilangkan fungsi perkebunannya. Jadi, menurutku, pemukiman bisa dibangun di situ selama tidak menutup seluru...

Cerita Fiksi: Menemukan Makna di Ruang Publik Kota

Gambar
Di sebuah kota bernama Laradina, yang tengah tumbuh menjadi pusat metropolitan di pesisir selatan, hiduplah seorang mahasiswa arsitektur lanskap bernama Galang. Ia sedang menyusun tugas akhir kuliahnya, dan dosennya baru saja memberikan penjelasan panjang lebar tentang bagaimana menilai kualitas ruang publik di koridor jalan. Sore itu, Galang memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri Jalan Tirtayasa, sebuah jalan utama yang menghubungkan kampus dengan kawasan permukiman tua dan pasar rakyat. Jalan ini dulunya ramai, tapi dalam beberapa tahun terakhir mulai ditinggalkan, kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan modern dan jalan tol baru yang memotong akses utama kota. Galang membawa buku catatannya, kamera kecil, dan keingintahuan yang menyala. Ia ingin melihat apakah penjelasan dosennya benar-benar terasa di dunia nyata. Langkah pertamanya dimulai di ujung jalan yang dekat dengan terminal lama. Di sana, trotoar tampak kusam, dipenuhi tambalan aspal dan bekas genangan air. Ia berhenti ...

Cerita Fiksi: Jalan ke Kertamukti

Gambar
Di sebuah desa bernama Kertamukti, yang terletak di kaki perbukitan dan dikelilingi sawah hijau menghampar, kehidupan berjalan lambat dan sederhana. Desa itu seperti tertidur dari hingar-bingar perkembangan zaman. Jalan tanah berdebu menjadi satu-satunya penghubung menuju kota terdekat yang berjarak hampir dua jam perjalanan motor. Bila hujan turun, jalan itu berubah menjadi lautan lumpur yang tak bisa dilewati oleh kendaraan apa pun. Penduduk Kertamukti kebanyakan bekerja sebagai petani. Hasil utama mereka adalah kopi dan singkong. Kopi Kertamukti dikenal aromanya yang khas, tapi hanya sedikit orang di luar desa yang mengetahuinya. Untuk menjual hasil panen ke kota, mereka harus menyewa truk tua yang hanya bisa lewat jika cuaca baik. Sering kali, hasil panen membusuk di gudang karena tak sempat dikirim. Harga jual pun rendah, karena tengkulak memanfaatkan keterisolasian desa untuk menawar serendah mungkin. Namun segalanya berubah ketika pemerintah mengumumkan proyek pembangunan jala...